SIB Petaling Jaya
PERSPEKTIF ALKITAB MENGENAI PENDERITAAN II
August 29, 2021
Main Scripture Reference(s)
2 Corinthians 7:11-13

PERSPEKTIF ALKITAB MENGENAI PENDERITAAN II

August 29, 2021 / 2 Corinthians 7:11-13

PERSPEKTIF ALKITAB MENGENAI PENDERITAAN II

PELAJARAN DARI PENDERITAAN

28 Ogos 2021 | SIB PETALING JAYA

PENGENALAN:

Kota Korintus terkenal sebagai “kota maksiat”. Daya tarik kota Korintus adalah kuil-kuil kafir yang dilayani para pelacur. Percabulan merupakan suatu hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang Korintus, bahkan menjadi bagian upacara suci keagamaan, dan kota Korintus menjadi pusat utama ibadah dan penyembahan duniawi, dan seluruh penjuru kota dipenuhi dengan rumah pelacuran.

Penderitaan merupakan peristiwa yang dapat dialami setiap orang. Penderitaan telah membuat orang menangis, mempertanyakan atau bahkan meninggalkan Allah. Apakah penderitaan menjadi bukti bahwa Allah tidak ada? Bukankah kalau Allah ada maka penderitaan tidak ada? Apakah penderitaan menjadi bukti bahwa Allah sudah kalah dan tidak lagi berkuasa atas dunia Penulis menjelaskan bahwa penderitaan merupakan panggilan orang percaya karena berada di masa the already and the not yet, yaitu masa di mana Yesus Kristus telah menang atas kuasa dosa, kutuk alam semesta dan pemerintahan Iblis serta merupakan masa hadirnya pemerintahan Allah di dunia, meski semua ini belum mencapai kepenuhannya. Karena itu orang percaya tidak perlu takut atau meninggalkan iman Kristen.

Allah pada mulainya menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menikmati dan mengelolah seluruh ciptaan, namun sejak manusia jatuh dalam dosa, Allah memberikan hukuman mengakibat manusia mengalami penderitaan, baik kepada Adam maupun kepada Hawa. Di sisi lain dalam Perjanjian Lama, banyak berbicara tentang berkat secara fisik dan kutuk jika melanggar perintah-perintah Allah (bdk. Ul. 28), salah satu contoh dalam Kitab Ratapan yang menguraikan hidup manusia mengalami penderitaan yang mengakibatkan terjadinya meratap sebagai cara mengungkapkan kepedihan atau peristiwa tragis yang sulit dilupakan begitu saja.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri ketika memilih atau memanggil para murid dalam memulai pelayanan, Ia berkata kepada para murid bahwa, “barangsiapa mengikuti Aku, ia harus memikul salib (Mat. 16:24)”, artinya para murid sendiri akan mengalami penderitaan bahkan kematian karena Kristus. Ungkapan Yesus ini benar terjadi bagi murid-murid, misalnya Yohanes yang dibuang ke Pulau Patmos. Jadi penderitaan ini disebabkan karena iman kepada Yesus Kristus dan menjalankan amanat Agung. Perkataan Yesus yang lain bahwa, “kalian hidup seperti domba di tengah-tengah serigala, artinya para murid akan diperhadapkan dengan situasi yang sulit, Hal yang sama dialami Paulus dalam melakukan penginjilan. Ia rela mengalami penderitaan karena iman dan pelayanan yang dipercayakan, bahkan Paulus berkata, jika aku hidup, maka aku hidup untuk Kristus dan jika aku mati aku mati untuk Kristus, jadi baik hidup atau mati adalah milik Kristus. Jadi dalam Perjanjian Baru, penderitaan sebagai menjadi pengikut Yesus, namun di sisi lain juga sebagai proses dalam pembentukan iman agar semakin bergantung sepenuhnya kepada Kristus (Bdk. Rm. 5:3-5, 2 Kor. 2:8-9). Prinsipnya, Yesus tidak pernah menjanjikan seseorang yang percaya bebas dari penderitaan, misalnya sakit penyakit, penganiayaan dan berbagai penderitaan lahiriah. Dalam keadaan demikian, Yesus pun berjanji akan memberi kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi penderitaan.

TEKS PEMBACAAN:

2 Korintus 7:11-13

7:11 Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu. 

7:12 Sebab itu, jika aku telah menulis surat kepada kamu, maka bukanlah oleh karena orang yang berbuat salah, atau oleh karena orang yang menderita perbuatan salah, melainkan supaya kerelaanmu terhadap kami menjadi nyata bagi kamu di hadapan Allah. 

7:13 Sebab itulah kami menjadi terhibur. Dan selain penghiburan yang kami peroleh itu, kami lebih lagi bersukacita oleh karena sukacita Titus, sebab kamu semua menyegarkan hatinya.

Hasil dukacita yang menurut kehendak Allah (7:11).

Ayat 11 menyatakan hasil dukacita yang menuruti kehendak Allah dalam jemaat Tuhan di Korintus. Paulus menyebutkan enam hasil dari dukacita yang menurut kehendak Allah itu. “pembelaan diri”, yaitu pembebasan diri dengan mengakui kesalahan dan memperbaiki kesalahan mereka. Kedua, “kejengkelan” yaitu kejengkelan kepada diri sendiri karena kesalahan itu dibiarkan di dalam jemaat. Ketiga, “ketakutan”, yaitu ketakutan kepada Paulus yang akan datang kepada mereka dengan hak seorang rasul dan dengan “rotan”. Keempat, “kesungguhan yang besar”, yaitu kerinduan untuk tetap dalam persekutuan dan persahabatan dengan Paulus yang telah membawa Injil kepada mereka. Kelima, “kegiatan”, yaitu kerajinan untuk melaksanakan hak seorang rasul yang ada pada Paulus. Keenam, “penghukuman”, yaitu penghukuman terhadap kesalahan mereka, bahwa mereka telah menjalankan ketertiban terhadap orang yang bersalah. Mereka telah berusaha sungguh-sungguh untuk menuruti segala pesan Paulus yang terdapat dalam suratnya yang pertama, sehingga ia mengakui bahwa mereka telah membuktikan diri mereka kudus di dalam perkara itu. Satu orang telah berbuat dosa, dan seluruh jemaat menjadi bertobat. Dukacita menurut kehendak Allah telah nyata dalam jemaat di Korintus. Hal itu menunjukkan bahwa semua orang yang percaya kepada Kristus adalah satu tubuh. Jika satu anggota menderita, semua anggota yang lain akan menderita juga.

Sebab itu, jika aku telah menulis surat kepada kamu….supaya kerelaanmu terhadap kami menjadi nyata bagi kamu di hadapan Allah” (7:12).

Paulus menulis suratnya yang pertama agar kerelaan dan ketaatan orang-orang Korintus terhadapnya menjadi nyata bagi mereka di hadapan Allah. Sungguh sukar mendapatkan kepastian tentang ayat ini, sebab ada juga naskah-naskah lama yang berbunyi demikian: “Supaya kerajinan kami terhadap kamu dinyatakan kepadamu dihadirat Allah.” Tentu Paulus berharap agar suratnya yang kedua ini menolong jemaat di Korintus menginsafi hubungan mereka yang sebenarnya dengan Paulus, yaitu bahwa mereka terikat kepadanya dalam kasih dan kesetiaan. Jika mereka menyelidiki hati mereka, mereka akan mengerti keadaan dan hubungan mereka yang sejati.

“Sebab itulah kami menjadi terhibur… Kami lebih lagi bersukacita oleh karena sukacita Titus, sebab kamu semua menyegarkan hatinya” (7:13).

Titus sangat bersukacita sebab mereka menerima surat Paulus dengan baik dan menaati segala pesan yang tertulis di dalamnya. Hal itu juga telah menyebabkan Paulus sangat bersukacita. Hasil pekerjaan Titus di Korintus sudah nyata dan hal itu membawa sukacita yang besar bagi Paulus. Seorang pemberita Injil yang sungguh-sungguh menjadi hamba Kristus akan selalu bersukacita apabila seorang temannya diberkati oleh Tuhan dan usahanya berhasil dengan baik.

HAKIKAT PENDERITAAN MANUSIA DALAM PANDANGAN ALKITAB

Penderitaan mengakibatkan kesakitan, kesedihan atau dukacita (1 Pet. 1:6) dan seringkali membingungkan karena tidak dapat diprediksi, misalnya seseorang mengalami sakit penyakit yang tak kunjung sembuh walau pun sudah menjalani pengobatan, di sisi lain, penderitaan bagaikan misteri karena tidak dapat disangka atau diduga namun tiba-tiba terjadi, misalnya seseorang mengalami kecelakaan dan berakibat lumpuh yang berkepanjangan atau mengalami kematian. Alkitab menegaskan bahwa ada hal-hal yang tersembunyi yang tidak pernah mungkin dipahami oleh pikiran kita yang sangat terbatas. Di dalam Ulangan 29:29 berkata, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.”19

Dari penjelasan di atas, pada sisi lain kita sering memiliki pertanyaan-pertanyaan, misalnya mengapa ada penderitaan, mengapa mesti menderita sekarang?, Apa yang sedang Allah lakukan?, dan apa makna penderitaan.

Alkitab menjelaskan bahwa tujuan utama penderitaan adalah terbentuk sifat-sifat seperti Kristus dalam diri seseorang (2 Kor. 1:7-9). Berikut ini ada beberapa hakikat dari penderitaan, antara lain:

1. Penderitaan itu membuktikan (menguji) siapa kita.

Yakobus 1:2, penderitaan yang dialami seseorang dapat memurnikan iman dan menguji integritas seseorang sama seperti emas dapat diuji kemurniaannya (1. Pet. 1:6-7).

2. Penderitaan adalah satu proses.

Karena proses, maka memerlukan waktu. Hasil yang diharapkan Allah lewat pencobaan hidup memerlukan waktu dan juga kesabaran. Dan bukan hanya itu saja, kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan (Rm. 5:3-4). Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun (Yak. 1:3-4).

3. Penderitaan dapat memurnikan.

Apapun alasannya, bahkan sekalipun jika bukan merupakan disiplin Allah atas keduniawian kita, penderitaan adalah satu pemurnian karena tidak satu pun manusia yang bisa sempurna dalam hidup ini. Bukan seolah-olah akau telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku juga dapat menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus (Bdk. Flp. 3:12-14).

4. Penderitaan untuk kemuliaan Allah

Penderitaan yang diceritakan dalam Yohanes 9, hanya untuk kemuliaan Allah. cerita ini dijelaskan bahwa orang yang buta sejaklahir bukan karena dosanya tetapi rencana Allah ingin dinyatakan agar kemuliaan Allah dianggungkan.

5. Penderitaan adalah sesuatu yang telah ditentukan sebelumnya atau diatur.

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan (Bdk. 1 Pet. 1:6). Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang akan datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu (Bdk. 1 Pet. 4:12).

6. Penderitaan itu tidak bisa dihindari.

Yesus sendiri telah menjadi contoh dalam menjalani penderitaan (Bdk. Luk. 24:46) dan Yesus berkata kepada murid-murid bahwa barangsiapa mengikuti Aku ia harus memikul salib. Ungkapan ini menunjukkan bahwa penderitaan tidak dapat dihindari oleh orang yang percaya Yesus (Bdk. Mat. 16:24).

7. Penderitaan adalah satu pergumulan.

Pergumulan ini akan menyeluruh. Itulah sebabnya mengapa disebut “ujian” dan “pencobaan.” Bahkan meski kita telah mengetahui tujuan penderitaan dan prinsip-prinsipnya, dan bahwa kita mengetahui kasih dan keprihatinan Allah yang diberikan dalam Firman Tuhan tentang bagaimana menghadapi penderitaan, menghadapi pencobaan hidup tidak pernah enteng karena penderitaan itu menyakitkan. Ujian hanya memberi kemampuan kepada kita untuk bekerjasama dengan prosesnya (Yak. 1:4). Penderitaan memungkinkan prosesnya terjadi dalam hidup kita dan memungkinkan kita untuk mengalami kedamaian dan sukacita batin ditengah-tengah pencobaan. Untuk menghadapi penderitaan dalam kedamaian dan sukacita batin, kita dituntut mampu melihat ke depan dalam mengetahui apa maksud dan tujuan penderitaan yang kita alami. Ini memerlukan iman kepada Tuhan.20

SIKAP MENANGGAPI PENDERITAAN:

Berikut ini, beberapa sikap dalam menanggapi penderitaan yang dijelaskan oleh Alkitab, antara lain:

1. Mengandalkan Allah (2 Kor. 1:9-11; Mzm. 37:3-5)

Sikap mengandalkan Allah adalah sikap yang menaruh kepercayaan penuh pada kedaulatan Allah atas apa yang dialami. Sikap ini membutuhkan perendahan diri dan meyakini bahwa kehidupan ini memiliki kebergantungan yang mutlak hanya kepada Allah. Selain itu, memiliki keyakinan bahwa semua yang terjadi dapat dikendalikan oleh Allah sehingga tidak akan takut walaupun mengalami ancaman secara fisik, salah satu contoh tentang Daniel waktu diancam akan dibuang ke dalam gua singa, namum Daniel tetap mengandalkan Allah oleh karena rasa takut hanya kepada Allah (Dan. 6)

2. Menyadari bahwa penderitaan sebagai kasih karunia Allah (Flp. 1:29)

Allah bukan hanya memberikan keselamatan tetapi juga mengizinkan penderitaan sebagai bagian dari penggenapan Alkitab, seperti ungkapan Yesus bahwa, “barangsiapa mengikuti Aku ia harus memikul salib.” Jadi penderitaan dapat diterima sebagai suatu proses dalam mengerti akan kehendak Allah.

3. Bersukacita atau mengucap syukur (Flp. 4:4; 1 Tes. 5:16 dan 1 Tes. 5:18)

Manusia pada umumnya bersukacita atau mengucapkan syukur karena secara lahiriah mengalami hal-hal yang menyenangkan. Hal ini berbeda dengan pernyataan Alkitab bahwa dalam setiap keadaan orang percaya tetap mengucap syukur, contoh ketika Paulus di penjara karena memberitakan Injil (Flp. 4:4), ia tetap mengucapkan syukur karena itulah kehendak Allah.

4. Sadar bahwa apa yang Allah izinkan tidak akan melebihi kekuatan kita (1 Kor. 10:13)

Allah yang mengendalikan segala sesuatu yang terjadi termasuk penderitaan yang diizinkan-Nya maka Allah yang mengetahui kemampuan atau kekuatan setiap orang percaya maka penderitaan yang diizinkan-Nya tidak akan melebihi kekuatan dan Allah berkuasa memberikan perlindungan, pertolongan, dan hikmat serta kekuatan yang cukup dalam menghadapi atau mengalami penderitaan.

BERBAHAGIALAH KITA:

Berbahagialah kita dan semua orang percaya yang sudah memperoleh bagian penderitaan dalam penghiburan dan bagian penghiburan dalam penderitaan dalam nama-Nya tetap memuji, memuliakan dan melayani-Nya dengan baik, lebih baik dan sangat baik, karena Dia sudah lebih dahulu menyediakan bagi kita upah besar di Kerajaan Sorga.

Berbahagialah kita yang tidak menaruh kepercayaan pada diri sendiri, melainkan menaruh pengharapan dan kepercayaan kita hanya kepada Dia, Yesus Kristus Tuhan kita, yang sudah, sedang dan akan menyelamatkan kita dan semua orang percaya sampai akhir zaman, karena Dia sudah lebih dahulu melimpahkan bagi kita kasih setia dan kasih karunia-Nya yang berkelimpahan.

Berbahagialah kita yang sudah percaya bahwa oleh karena iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus, maka kita memiliki pengharapan akan hidup kekal dalam damai sejahtera dengan Allah di Kerajaan Sorga, karena Dia sudah menyediakan bagi kita bagian warisan hidup kekal yang penuh sukcita dan damai sejahtera di sorga

 

Save PDF Locally

Click to save a copy of the filled-in notes to a PDF file on your device

Save PDF to Google Drive

(Android & PC Only) Click to save a copy of the filled-in notes to a PDF file on your Google Drive account

Send to Email

Enter your email address below to receive a copy of your filled in notes