SIB Petaling Jaya
AYUB DALAM PENDERITAAN
September 5, 2021

AYUB DALAM PENDERITAAN

September 5, 2021

AYUB DALAM PENDERITAAN

SIB PETALING JAYA | 5 September 2021

PENGENALAN

Penderitaan merupakan bagian dalam hidup manusia. Beragam bentuk penderitaan manusia dan beragam pula tanggapan manusia menghadapi penderitaan. Bila melihat penderitaan orang jahat atau mereka yang secara moral tidak baik, umumnya manusia beranggapan penderitaannya disebabkan oleh dosa-dosanya. Wajar orang jahat menderita, tetapi melihat orang baik menderita, kebanyak orang akan sulit memberi tanggapan. Mengapa orang baik harus menderita? Begitu pula yang dialami oleh Ayub.

Kitab Ayub menceritakan riwayat seorang laki laki yang makmur dan baik kelakuannya. Ia bernama Ayub dan yakin bahwa ia sanggup menentukan hidupnya, asal saja ia bertindak dengan bijaksana. Akan tetapi, ia tertimpa kecelakaan: anak anaknya mati, kedudukan dan harta habis. Ia mencari arti penderitaan; teman temannya berpendirian bahwa Ayub pasti bersalah dan menyebabkan hukuman itu; Ayub sendiri yakin bahwa ia selalu hidup secara adil dan ia meminta pembenaran oleh Allah. Dalam dialog dengan ketiga temannya, Ayub tiba pada keyakinan bahwa ia tidak dapat mengetahui apa sebabnya ia menderita dan tidak boleh meminta pertanggungjawaban pada Allah. Ia mulai melepaskan gambar Allah yang penyayang melulu atau Hakim yang menghukum atau membenarkan; ia meminta dengan sangat bahwa Allah memperhatikannya dan menjawab seruannya. Pada fakta ini kita bertanya mengapa menderita? Oleh karena itu, di sini kita akan belajar mengenai hal penderitaan yang dialami oleh orang benar seperti Ayub.

PANDANGAN TERHADAP PENDERITAAN AYUB

A.    Pandangan Allah

Allah sendiri tidak menyebabkan penderitaan Ayub, Ia mengijinkannya. Agak aneh bahwa dalam menjawab Ayub, Allah tidak menyinggung masalah penderitaannya. Yang penting adalah respon Ayub, bukan sebabnya Ayub menderita. Ayub bukan menderita karena dosanya, tetapi janganlah Ayub berdosa dalam penderitaannya. Penderitaan adalah panggilan untuk tetap percaya dan berserah meskipun kita tidak mengerti. Allah adalah adil, berdaulat, dan setia apapun yang terjadi.

Banyak orang beranggapan bahwa Allah sependapat dengan iblis dan telah terjadi kesepakatan diantara keduanya. Tetapi tidak demikian nyatanya; Meskipun Allah mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub, bukan berarti Allah sependapat dengan Iblis. Iblis begitu giat mencari-cari kesalahan yang bersifat sinis dan menghancurkan. Iblis mencetuskan bahwa Ayub setia kepada Allah karena kemakmuran yang ia terima. Itulah sebabnya Allah ingin menunjukkan kepada Iblis bahwa tidak ada seorangpun yang seperti Ayub, yang demikian salehnya, takut akan Allah, menjauhi kejahatan dan tekun dalam kesalehannya. Allah melihat bahwa kesetiaan Ayub tidak seperti yang dikatakan iblis oleh karena kemakmurannya. Ketika penderitaan datang bersikaplah benar. Jika ada dosa akuilah, tetapi milikilah perspektif yang benar. Allah tidak pernah mencobai (menginginkan kita jatuh), Ia menguji (supaya iman kita bertumbuh).

B.     Sudut Pandang Iblis

Menurut Iblis, penderitaan merupakan alat untuk memaksa manusia untuk menyangkal Allah. Iblis beranggapan bahwa kesalehan Ayub selama ini karena Allah selalu memberkatinya. Oleh karena itu Iblis mencobai Ayub melalui berbagai penderitaan dengan tujuan meruntuhkan iman Ayub kepada Allah. Menurut ketiga teman Ayub (Elifas, Bildad, Zofar), penderitaan selalu merupakan hukuman karena dosa. Pendapat ini tidak dibenarkan oleh Allah (Ayub 2:7-8).

C.    Pandangan Sahabat-sahabat Ayub

Kitab Ayub melukiskan ketiga sahabat Ayub yang prihatin dan dengan niat baik tetapi dilanda frustasi. Sebenarnya mereka ingin menolong Ayub yang sedang dalam keadaan tertekan, tetapi justru mereka malah kebalauan. Tetapi sebenarnya mereka bukan terjebak, tetapi memang pelayanan mereka yang keliru. Pasal 2:11-13 menjelaskan ketika ketiga sahabat Ayub: Elifas, Bildad dan Zofar mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa Ayub, mereka sepakat untuk datang mengucapkan belasungkawa dan menghibur, menangis, mengoyak jubah dan menabur debu di kepala, duduk bersama di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepada Ayub, karena melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.

Ketiga sahabat Ayub tidak berbicara, sampai Ayub membuka pembicaraan pada pasal tiga. Mereka mendengarkan tetapi mereka menganggap Ayub tidak jujur dengan mempertanyakan keadilan Allah, lalu mereka mengambil sikap hendak “membela” kebenaran Allah. Dengan latar belakang dan temperamen yang berbeda mereka berbicara kepada Ayub:

1.      Elifas, orang Teman (wilayah yang terkenal dengan orang-orang bijaksana) berkata:
“Camkanlah ini: siapa yang binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang
jujur dipunahkan? Yang kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan
menabur kesusahan, ia menuainya juga”(4:7-8)

Intinya: Engkau orang berdosa Ayub!

2.      Bildad (Orang yang berpikir secara tradisional) : “Berapa lamakah lagi engkau akan
berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?” (8:2)
Intinya: Engkau berbohong, Ayub!

3.      Dan Zofar (Orang yang moralis): “Jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu, maka sesungguhnya, engkau
dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan
takut” (11:14-15).

Intinya: Kalau bertobat, Allah akan memulihkan!

Apakah pendapat ketiga sahabat terhadap penderitaan yang dialami Ayub itu benar? Ayub 42:7 menyatakan: “Setelah Allah mengucapkan firman kepada Ayub, maka firman Allah kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” Ketiga sahabat Ayub berkesimpulan bahwa Ayub menderita karena ia telah berbuat dosa.

Alkitab menyatakan kepada kita bahwa: Penderitaan adalah bagian dari hidup. Kita mungkin tidak pernah tahu mengapa. Penderitaan itu tidak identik dengan dosa. Allah menyertai dan ada di dalam penderitaan kita

D.    Pandangan Elihu

Setelah pembicaraan dengan ketiga sahabat pertama selesai, maka Elihu pun angkat bicara. Elihu juga adalah sahabat Ayub, tetapi karena dialah yang paling muda maka ia berdiam diri untuk memberi kesempatan kepada yang lebih tua. Elihu tidak setuju dengan ketiga sahabat Ayub yang menuduh Ayub telah berbuat dosa. Ia juga tidak setuju sama sekali dengan Ayub yang membebaskan diri dari segala kesalahan; kedua pihak sangat melebihi pendapat masing-masing. Elihu menganggap pendritaan Ayub sebagai deraan Allah terhadap Ayub. Ia menasihati Ayub untuk bertobat oleh karena dengan perkataan yang diucapkannya itu ia telah berbuat dosa dan dosa itu harus diakui.

Dalam uraian Elihu, ia memakai teologi penciptaan untuk menggempur pendapat Ayub bahwa haknya tidak diperhatikan oleh Allah, dengan kata lain bahwa Allah tidak adil (34:5-6), dan bahwa tidak ada gunanya menjadi orang benar yang dikenan Allah, karena akan terkena penderitaan yang dahsyat juga. Menurut Elihu, Allah adalah pencipta yang Mahakuasa. Jika Ia menarik kembali roh-Nya, maka binasalah segala yang hidup dan manusia kembali kepada debu. Bagi Elihu, keadilan dan kemahakuasaan Allah adalah satu. Karena Allah adalah pencipta yang mahakuasa, maka Ia adil. Itulah kesimpulan yang akan diambil orang-orang yang berakal budi dan memiliki hikmat, itulah yang membedakan kita dari binatang (35:15). Oleh karena itu, apa yang diungkapkan Ayub merupakan perkataan dari orang yang tidak berakal budi atau yang akal budinya tertutup oleh berbagai masalah. Allah bukannya tidak memperhatikan penderitaan. Ia memperhatikan Ayub, tetapi Ia tidak menjawab karena Ayub congkak. Dalam uraian ini, Ayub dikecam oleh Elihu sebagai orang yang menghujat Allah dan bersekongkol dengan orang jahat dan fasik (34:7-8), tidak berpengetahuan dan kata-katanya tidak mengandung pengertian (34:35), banyak bicara terhadap Allah (34:37) dan besar mulut (35:16). Andaikata Ayub rendah hati, ia pasti akan melihat rencana Ilahi.

E.     Pandangan Ayub Sendiri

Berdasarkan keyakinannya bahwa tidak bersalah, Ayub keras-keras menolak hubungan antara dosa pribadi dan penderitaannya. Menurut Ayub pada mulanya, penderitaan adalah untuk orang jahat, bukan orang benar. Kemudian, menurut Ayub penderitaan merupakan proses Allah untuk menghasilkan seorang yang bersifat emas (Ayub 23:10). Ayub sendiri kemudian mengaku, “Hanya dari kata orang saja aku mengenal Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayub 4:5). Ternyata justru melalui penderitaan yang dialami, Ayub mengenal Allah lebih dalam (Knowing God better through adversity).

Ayub mengatakan rahasia penderitaan ada pada TUHAN bukan berdasar realita manusia. Ayub tidak menyangkal adanya pembalasan di bumi, sebaliknya ia justru mengharapkannya. Allah akhirnya juga memperlakukan Ayub sesuai dengan keyakinannya itu, sebagaimana kita mengetahuinya dari bagian penutup kitab. Tetapi Ayub durhaka dan tidak mau menerima bahwa ganjaran-ganjaran atas perbuatan-perbuatannya yang benar tidak diperolehnya sekarang juga. Dengan percuma saja Ayub mencari-cari makna penderitaannya sekarang. Dengan nekad ia berjuang untuk menemukan Allah yang sedang bersembunyi, walaupun Ayub tetap yakin bahwa Allah adalah baik. Ketika Allah akhirnya turun tangan, maka Ia hanya membuka tabir transendensiNya dan transendensi rencanaNya dan mendiamkan Ayub. Maka pelajaran Kitab Ayub adalah sebagai berikut: Manusia harus tetap teguh iman dan kepercayaannya, walaupun akal budinya tidak memahami apa-apa. 

KESIMPULAN

Kisah Ayub, dari penderitaan yang dalaminya, pergumulannya dalam memaknai penderitaan itu, dan akhirnya kebahagiann yang diperoleh sebagai anugerah Allah telah mendorong kita untuk lebih bisa memaknai menderitaan itu sebagai suatu hal yang patut kita syukuri dalam kehidupan kita. Penderitaan dan kejahatan pasti selalu ada dan nyata, dapat diamati dan dirasakan sehingga mau atau tidak mau harus ada upaya untuk memahami dan memaknainya.

Kita pasti pernah menggerutu tentang Allah. Karena orang yang setia bernama Ayub menyuarakan penderitaan, kebingungan, dan kemarahannya, semua orang dapat memperoleh manfaat dari integritasnya dan juga dari pengetahuannya dan kesadaran yang diterimanya.

 

Save PDF Locally

Click to save a copy of the filled-in notes to a PDF file on your device

Save PDF to Google Drive

(Android & PC Only) Click to save a copy of the filled-in notes to a PDF file on your Google Drive account

Send to Email

Enter your email address below to receive a copy of your filled in notes